PENGEMBANGAN HHBK DAN EKOWISATA DI HULU DAS BRANTAS MEMERLUKAN PENDANAAN MULTIPIHAK

Malang (29/10/2015) – Direktorat Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas dan BPDAS Brantas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berkesempatan untuk mengunjungi 2 lokasi potensial pelestarian DAS berbasis kearifan lokal di Kabupaten Malang, Jawa Timur pada tanggal 29 Oktober 2015. Tim Bappenas diwakili oleh Ir. Nita Kartika M.Ec dan Andi Setyo Pambudi, ST serta 2 tenaga ahli yaitu Deni, S.Hut, Msi serta Didit Susiyanto, S.Sos, M.Kesos. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi wilayah DAS untuk proses perencanaan dan pelaksanaan konservasi sumberdaya air di DAS Brantas dan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan di kawasan DAS, bentuk kearifan lokal masyarakat serta dukungan kelembagaan lokal dan organisasi di masyarakat. Kegiatan kunjungan lapangan dilakukan di 2 Desa yang berada di Sub DAS Lesti DAS Brantas di Kabupaten Malang. Adapun Desa yang dikunjungi adalah Desa Rejosari Kecamatan Bantur Kabupaten Malang dan Desa Sanankerto Kecamatan Turen Kabupaten Malang.

Desa Rejosari Kecamatan Bantur Kabupaten Malang merupakan desa memiliki potensi pengembangan budidaya dan produksi tanaman Porang. Tanaman tersebut menghasilkan tepung porang yang memiliki kandungan lemak rendah sehingga bermanfaat bagi kesehatan dan telah diekspor keluar negeri. Salah satu pengembang budidaya porang adalah Kelompok Pengelola Hutan Rakyat (KPHR) Alam Makmur yang dipimpin Bapak Jais. Kelompok ini telah terbentuk tahun 2007 dan menjadi salah satu kelompok di masyarakat yang dapat mengembangkan porang dengan diintegrasikan melalui penanaman pohon tegakkan di wilayah area hutan rakyat. Tujuan dari pengembangan budidaya porang dengan mengintegarsikan melalui pohon tegakkan agar kawasan hutan tetap lestari dan menjadi kawasan yang menyimpan sumber mata air untuk masyarakat dan bermanfaat bagi pelestarian debit sumber mata air di Sub DAS Lasti di Hulu DAS Brantas.

Kelompok KPHR Alam Makmur untuk mengembangkan budidaya jenis porang yang merupakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan kegiatan rehabilitasi tidak dilepaskan dari semangat dan nilai gotong royong dari warga desa Rejosari. Nilai-nilai kebersamaan dan kegotong royongan ini yang menjadi modal warga desa dalam mengembangkan usaha budidaya porang sebagai pendapatan tetap warga desa. Selain itu kebersamaan dan kentalnya gotong royong dari warga desa menjadi stimulus untuk melakukan kegiatan program-program RHL di wilayah lahan kritis dan diwilayah Sub DAS Lesti. Agar dapat lebih berkembang, dukungan pendanaan dari berbagai pihak sangat diperlukan, baik untuk mendukung kegiatan ekonomi berbasis kearifan lokal maupun pelestarian kesehatan hulu Sub DAS Lesti.

Sementara itu, Desa Sanankerto Kecamatan Turen Kabupaten Malang memiliki potensi dalam bentuk hutan bambu dan wisata air. Tanaman bambu menjadi daya tarik desa untuk destinasi wisata alam yang memberikan pendapatan ekonomi dan cadangan sumber mata air untuk air minum dan irigasi sawah bagi warga desa. Kelompok yang mengelola tanaman Bambu desa Sanankerto disebut “Wana Boon Pring” yang berarti Hutan Kebun Bambu. Dalam kunjungannya, Tim Bappenas melakukan diskusi dengan kelompok tersebut di Balai Desa Sanankerto yang difasilitasi oleh Kepala Desa setempat dan BPDAS Brantas.

“Pengembangan ekowisata yang mengintegrasikan tanaman bambu dengan kearifan lokal serta potensi lainnya akan meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus melestarikan sumber air di hulu DAS Brantas perlu didukung secara penuh oleh berbagai pihak”, ujar Ir. Nita Kartika, M.Ec, Kasubdit Rehabilitasi Hutan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas yang hadir dalam diskusi tersebut.

Salah satu prinsip yang dijunjung dalam kelompok ini adalah bambu merupakan peninggalan nenek moyang desa sehingga perlu dilestarikan keberadaanya. Selain itu, prinsip tersebut didorong dengan nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan sebagai karifan lokal warga desa yang mendorong banyaknya warga desa yang berpartisipasi dan mengembangakn produk dan olahan hasil bambu. Tingginya atusiasme warga terhadap bambu memicu para wanita di desa berpartisipasi untuk mengembangkan hasil olahan bambu seperti rebung/bambu muda yang dijual untuk bahan makanan dan anyaman bambu. Sedangkan untuk para pemuda desa mengembangkan kerajinan dari bambu dan akar untuk replika bentuk perahu pinis mini, kerajinan kriya dari akar bambu berbentuk wajah manusia, binatang, tanaman dan asbak rokok. Keberadaan kelompok Wana Boon Pring ini memicu masyarakat untuk tergugah mengembangkan jasa wisata dengan melakukan pembukaan jalan di wilayah taman wisata hutan bambu yang mencapai panjang 2 km dengan dikerjakan 500 warga desa dalam tempo dua hari.

Secara sosial budaya keberadaan tanaman bambu didesa Sanankerto sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat dimana sebagain besar masyarakat memanfaatkan bambu untuk anyaman dinding rumah dan atap rumah, pagar, bahan bangunan dan makanan khas terbuat dari bambu yaitu rebung. Pada awalnya jenis tanaman bambu yang berada di kebun bambu tempat wisata seluas 3 hektar dengan jenis bambu Petung, Apus, dan Ori. Keberadaan tanaman bambu di lokasi wisata ini berkontribusi besar dalam menjaga sumber mata air yang dimanfaatkan juga untuk wisata kolam renang, persewaan sampan/perahu dan wisata air lainnya. Upaya lain untuk menjaga kawasan Sub DAS Lesti dengan melakukan kegiatan rehabilitasi dikawasan Sub DAS dan mengembangkan tanaman bambu dan pohon tegakan di sekitar sungai Lesti.

Dalam aktivitasnya, Kelompok Wana Bon Pring ini dalam kegiatan konservasi dan pengembangan jenis dan olahan produk bambu di dukung oleh BPDAS Brantas. Ditahun 2014 dukungan kerjasama kelompok Wana Boon Pring dengan BPDAS Brantas dengan melakukan kegiatan penanaman tanaman bambu di Blok Andeman dengan luas 10 hektar. Adapun jenis tanaman bambu yang ditanam antara lain Bambu Petung sebanyak 2640 batang, Bambu Petung Hitam sebanyak 33 batang, Bambu Apus sebanyak 99 batang, Bambu Tutul sebanyak 35 batang, Bambu Ampek sebanyak 330 batang, Bambu Wulung sebanyak 33 batang, Bambu Kuning sebanyak 418 batang, Bambu Pagar sebanyak 165 batang, Bambu Budha sebanyak 286 batang, Bambu Amplek sebanyak 110 batang dan Angustifolia sebanyak 286 batang.(*KKSDA)