RSSNC RUMPIN, PUSAT PERBENIHAN TANAMAN HUTAN MODERN YANG PERLU DIPERTAHANKAN

Bogor (29/12/2015) – Direktorat Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas bersama dengan Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan (PTH) Kementerian LHK pada tanggal 28 – 29 Desember 2015 mengadakan kunjungan kerja ke Rumpin Seed Source and Nursery Centre (RSSNC), Kabupaten Bogor. Kegiatan ini bertujuan untuk berdiskusi dan melihat langsung kondisi dan kegiatan RSSNC untuk menjadi bahan masukan kebijakan pengembangan perbenihan tanaman hutan dalam lingkup perencanaan. Kegiatan pembinaan dilaksanakan dengan mengadakan diskusi dengan Kepala RSSNC Ir. Benny Subandi, M.Sc., serta melihat langsung semua aset yang ada di RSSNC serta kegiatan yang dilakukan. Tim Bappenas diwakili oleh Ir. Nita Kartika, M.Ec dan Andi Setyo Pambudi, ST sedangkan Tim PTH oleh Ir. Rita Liana. MS dan Suci Respati, S.Hut, M.Si. RSSNC dibangun atas kerjasama pemerintah Indonesia cq Departemen Kehutanan dan Pemerintah Republik Korea melalui Korea International Cooperation Agency (KOICA) pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2010. Tujuan dari proyek ini terutama untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia kehutanan dan mengembangkan teknologi rehabilitasi lahan dan hutan melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman tenaga ahli di bidang perbenihan dan persemaian.

“RSSNC sampai saat ini banyak dimanfaatkan sebagai tempat penelitian sampai menghasilkan benih dan bibit unggul berkualitas sehingga diharapkan ke depannya dapat menjadi show window Kementerian LHK dalam hal pembibitan dan perbenihan tanaman hutan”, demikian disampaikan oleh Ir. Benny Subandi, M.Sc selaku kepala RSSNC dalam acara diskusi dengan Bappenas (28/12).

RSSNC mempunyai sarana dan prasarana laboratorium, persemaian dan rumah kaca, serta ruang kelas dan asrama yang memadai dan berkualitas tinggi, untuk itu sangat berpotensi untuk terus dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai pusat perbenihan dan persemaian serta tempat pelatihan. Dalam operasionalnya RSSNC didukung oleh sumberdaya manusia yang cukup profesional dibidang perbenihan dan persemaian. Namun demikian sebagian besar dari tenaga profesional maupun tenaga pendukung masih honorer sehingga membutuhkan biaya operasional yang relatif besar. Kegiatan penelitian, pelatihan, serta pengembangan sarana fisikserta pemeliharaannya sampai saat ini masih mendapat dukungan pendanaan dari KIFC Korea, namun untuk pembayaran tenaga baik yang profesional maupun pendukung harus disediakan dari rupiah murni (melalui APBN Kementerian KLHK/ Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan).

“RSSNC sudah cukup dikenal di kalangan masyarakat kehutanan, pelajar dan mahasiswa baik dari Korea maupun Indonesia, sampai saat ini tempat tersebut banyak dikunjungi tamu untuk melihat perkembangan aktivitas RSSNC, serta dijadikan tempat praktek baik pelajar khususnya SMK Kehutanan dan mahasiswa untuk belajar teknik pembibitan”, tuturnya.

Kapasitas laboratorium baik untuk uji benih maupun laboratorium kultur jaringan kapasitasnya peralatan relatif besar, namun belum dimanfatkan secara maksimal, karena keterbatasan sumber daya. “Kelembagaan RSSNC sebagai pusat perbenihan dan persemaian tanaman hutan perlu mendapat perhatian sehingga dapat berperan lebih baik lagi di tingkat nasional. Keberadaan sumberdaya manusia yang sudah terlatih yang sebagian masih berstatus honorer, perlu untuk terus dikembangkan kemampuannya dan sekaligus dipertahankan”, pungkasnya (*KKSDA)