SINERGI KEBIJAKAN BLUE WATER DAN GREEN WATER MENENTUKAN KEBERHASILAN PENCAPAIAN KETAHANAN AIR

Bogor (16/10/2015) – “Untuk meningkatkan dan menjaga ketahanan air di Indonesia, semua pihak harus semakin terlibat dalam penyelesaian berbagai permasalahan sumber daya air di tingkat lokal, regional, ataupun nasional baik di hulu, tengah maupun hilir dalam konteks Daerah Aliran Sungai (DAS)”. Demikian pernyataan yang disampaikan oleh Ir. Basah Hernowo, MA dalam Focus Group Discussion (FGD) Kajian Pengaruh Kebijakan Konservasi Sumber Daya Air terhadap Sektor Kehutanan dan Sektor Lainnya di Bogor (Kantor BPDAS Citarum Ciliwung), 16 Oktober 2015. Selain Ir. Basah Hernowo, MA, Focus Group Discussion ini juga menghadirkan narasumber Ir. Dodi Susanto, MP selaku Kepala BPDAS Citarum-Ciliwung bersama dengan 2 pakar lainnya yaitu. Prof.Dr.Ir. Naik Sinukaban, M.Sc (Forum DAS Nasional) dan Dr. Ir. Harry Santoso (MKTI).

Dalam pandangannya, Prof. Sinukaban menyampaikan bahwa sebagai suatu kesatuan yang utuh dari daerah hulu hingga hilir, DAS tidak dapat dipandang secara terpisah. Berbagai ekosistem seperti ekosistem hutan, rawa, danau, kolam, dan pertanian merupakan cakupan dari kesatuan ekosistem DAS yang didalamnya terjadi berbagai proses interaksi baik antara biota dengan biota, ataupun biota dengan non-biota. DAS merupakan sebuah sistem dengan banyaknya tingkat ketergantungan antara satu dengan yang lainnya, yang membutuhkan kesinergisan dalam keberlangsungan pengelolaannya. “Diperlukan penanganan yang cermat sehingga pengelolaan DAS dapat menghasilkan suatu fungsi hidrologi yang terancang, dengan mempertimbangkan perbedaan kemampuan dan peran yang dimiliki oleh daerah hulu dengan hilir. Dengan itu, degradasi sumber daya air ataupun bencana dapat terhindari” tuturnya.

Sementara itu Dr. Ir Harry Santoso menyampaikan bahwa UU No. 37 Tahun 2014 tentang Konservasi Tanah dan Air dapat dijadikan instrumen hukum untuk mendukung Ketahanan Air dari aspek green water. Undang-undang ini secara jelas tidak tumpang tindih dengan peraturan lain yang terkait sumber daya air dimana lebih banyak dalam aspek blue water. “Sinergi kebijakan blue water dan green water menentukan keberhasilan pencapaian ketahanan air yang berkelanjutan”ucapnya.

Konservasi sumberdaya air menjadi hal penting karena memegang peranan utama untuk menunjang keberlanjutan pembangunan. Sungai sebagai bagian lansekap konservasi sumberdaya air, saat ini banyak mengalami kerusakan disertai penurunan kualitas lingkungan. Saat ini belum ada sinergitas program, kegiatan, peran dan kewenangan antar institusi untuk melaksanakan konservasi sumber daya air berbasis DAS dengan tujuan akhir mencapai ketahanan air.

Pandangan kepala BPDAS Citarum Ciliwung, Ir. Dodi Susanto, MP adalah dalam perjalanannya, banyak ditemukan tantangan-tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan DAS. Sebagai contoh antara lain; lahan kritis tersebar diluar kawasan hutan menyulitkan intervensi kebijakan rehabilitasi hutan oleh instansinya. Ditambahkan pula, permasalahan tidak mantapnya tata ruang wilayah juga menyebabkan penggunaan lahan seringkali tidak sesuai atau tidak mengikuti tata ruang yang ada. “Sebagai implikasinya ,sering terjadinya konflik dalam penggunaan lahan. Tata ruang yang tidak mantap juga menyebabkan perencanaan dalam program rehabilitasi lahan dan penghijauan yang dihasilkan tidak mantap pula”pungkasnya.(*KKSDA).